Jumat, 03 Mei 2013

Cerita Motivasi-Ku




Ini terjadi sekitar seminggu yang lalu tepatnya satu hari sebelum hari kartini, namun semua berawal ketika aku akan tes drum waktu itu. Saat aku akan masuk mungkin sedikit perasaan grogi pun muncul, tapi aku mencoba untuk menenangkan diriku.
            Ku mulai berdo’a supaya aku tidak akan lupa cara memukul drum yang benar yang beberapa menit lalu sudah diajarkan teman-temanku. Aku pun duduk di depan drum dan mulai memutar lagu untuk kuiringi dengan main drum. Dengan kagetnya aku saat guru pembinaku mengatakan, “Kamu siap-siap ya untuk lomba kriya...” dengan hati yang deg-degan aku menjawab iya. Memang sih dulu aku sudah berjanji kalau ada lomba-lomba seperti lukis atau lainnya aku yang akan maju untuk mewakili sekolah kebanggaanku ini. Namun pada hari itu aku dalam posisi nerves karena akan tes drum, jadi aku langsung spontan sampai aku ngeblank saat drum dan melupakan semuanya. Jadi aku kurang maksimal saat tes itu. Satu kegagalan yang kualami hari itu.
            Kupersiapkan matang-matang segalanya sampai akhirnya guruku mengusulkan untuk aku membuat sebuah karya dari kayu randu, yaitu wayang thengul khas daerahku yaitu Bojonegoro. Memang sih tema yang tertulis dalam brosur lomba adalah Kriya Generasi Muda Sebagai Cinderamata Yang Khas Indonesia Untuk Pasar Global. Ku pikir cocok sekali jika aku membuat wayang thengul sebagai hasil karyaku dalam waktu 8 jam di lomba nanti.
            Meskipun hanya satu minggu mempersiapkan diri, tapi ku yakin itu sudah lebih dari cukup. Karena aku juga sudah pernah mengalaminya sebelumnya meski lomba yang dulu tak begitu sangat memuaskan hasilnya. Tapi dari pengalaman itu ku buat sebagai pacuan untuk lebih baik dari kemarin.
            Akhirnya hari H pun di mulai. Semua teman-temanku lain yang juga berpartisipasi dalam bidangnya masing-masing pun dikumpulkan. Dan sedikit penyemangat dari guruku. “Meskipun disana banyak yang lebih baik, anggap saja kita yang terbaik. Jangan pernah merasa minder, dan semangat semoga kita bisa merampas semua kejuaraann sampai titik darah penghabisan”. Kata-kata itu selalu ku camkan dalam benatku. Aku tak mau membuat kekecewaan untuk keluarga, guru, dan teman-temanku yang sudah mensupportku dari awal.
            Tiba pun kita semua di arena lomba, perasaan rendah sudah biasa dan aku anggap semuanya hanya setan yang mencoba menghantuiku. Namun yang tak ku sangka, ku kira dalam waktu 8 jam itu adalah membuat karyanya. Tapi ternyata hanya 5 jam dalam pengerjaan karya dan sisanya digunakan untuk membuat konsep dan mempresentasikan hasil karya masing-masing.
            Yang terlintas dalam fikiranku adalah apakah aku mampu menyelesaikan wayang thengul dari kayu randu yang rencana awal dengan waktu 8 jam sekarang berkurang 3 jam. Dengan perasaan yang takut, aku mencoba untuk tetap optimis. Memang aku dulu pernah di kritik jika aku ini sedikit lelet dalam mengerjakan sesuatu. Namun aku mencoba semua itu sebagai spirit aku agar aku bisa membuktikan aku tidak seperti itu.
            Dengan cekatan aku memulai menggarap kayu-kayu randu menjadi sebuah karya yang nantinya bisa mengharumkan nama sekolahku. Dengan alat-alat yang sudah kubawa, dan meski aku merasa sedikit minder dengan orang-orang asing samping-sampingku aku menyelesaikannya.