Jumat, 18 Januari 2013

Kekerasan Kakak Osisku



    DETEKTIF
 

MELIHATKAN HALAMAN SEKOLAH DAN MENUJU KE KELAS...
Sudah menjadi hal umum atau bahkan bisa di katakan tradisi jika disetiap tahun ajaran baru, semua murid baru harus mengikuti MOS. Dan wajarnya MOS menjadi sebuah alat kekerasan yang diberikan kakak kelas kepada adik kelas barunya itu. Hal ini juga di alami ol

eh Laila, Nata, Icha, Doni dan Sinta murid asal SMPN Harapan. Dan sekarang dia bersama-sama sedang mendapatkan pengarahan dari kakak OSIS di SMAN Nusa Bangsa.


Kakak OSIS    :           “Selamat pagi adik-adik... sekarang tugas kalian hari ini adalah
mencari tanda tangan dari teman atau kakak-kakak kelas yang bulan
kelahirannya sama dengan bulan kelahiran masing-masing. Dan
minimal harus mendapatkan 100 tanda tangan. Jika tidak kami akan
beri kalian hadiah yang paling spesial. Membersihkan WC sekolah.
                                    Oke...???”
Adik Kelas       :           “Mengerti Kak...” (Bersama-sama)
Kakak OSIS    :           “Ya... waktunya mulai sekarang. Ayo cepet! “
Memang yang membuat para orang tua khawatir adalah jika kakak kelas dari anaknya itu berbuat semena-mena tanpa memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya.
Kakak OSIS    : “Siapa di kelas ini yang mendapatkan tanda tangan kurang dari 100??          Maju kedepan, sekarang!!! Cepaattt...”
Laila                 :           “(Maju) Maaf kak... saya baru mendapatkan 95 Tanda tangan.”
Kakak OSIS    :           “Yaahhh... berarti kamu tahu kan konsekuensinya apa??”
Laila                 :           “Tahu kak...”
Kakak OSIS    :           “Ya sudah pergi sana...
                                    Sudah yang lainnya sekarang boleh istirahat...”
(Semuanya     :           Ya...kak )
            Laila pun pergi sambil membawa alat pel menuju toilet sekolah... tanpa disadarinya salah seorang Kakak OSIS mengikutinya dari belakang dan berniat akan menguncinya di WC.

OSIS   Ike       :           “Kita kerjain sekalian aja anak ini.” (tertawa)
OSIS   Jefri     :           “Oke... gue setuju.”
            Setelah masuk ke toilet. Dan mulai membersihkan, tiba-tiba pintu toliet tertutup. Dan Laila berusaha membukanya.
Laila                 :           “Tolong... tolong... ada orang diluar?? Saya terkunci di dalam sini.”
Kakak OSIS hanya bisa tertawa dan meninggalkan Laila.
Beberapa menit kemudian tak ada suara lagi dalam toilet.
Jefri                 :           “Eh ngomong-ngomong gimana anak tadi...??”
Ike                   :           “Haalah... biarkan aja dulu.“
Jefri                 :           “Jangan keterlaluan ya... kasihan juga anak orang itu. Aku nggak ikut
                                    campur  kalau ada apa-apa lo...”
Ike                   :           “Nggak bakalan terjadi apa-apa koq tenang aja. Lagian Cuma di kunci
aja...”     
Kemudian Nata teman Laila pergi ke toilet dan mencoba membukakan pintunya. Setelah di buka Laila sudah tergeletak di toilet.
Nata                : “Kak izin mau ke toilet dulu...”
Ike                   : “Iya, cepat kembali”
            Nata pun berusaha mencari Laila...
Nata                : “Laila...laila... kamu dimana? Ini aku Nata.” (membuka pintu toilet satu satu)
                          “Dimana ya laila... mungkin disana”.
  Laila...(mengetok pintu toilet) kamu di dalam?? Kenapa pintunya terkunci??”
            Pak bon datang...
Nata                : “Pak bisa minta pintu toilet yang ini...”
            Setelah di buka Nata dengan terkejut...
Nata                : “Tidaaakkkk.....!!!!!” (melihat Laila yang tergeletak tak berdaya)
            Ike dan Jefri pun berlari...
Ike                   : “Jangan pernah bilang ke siapa-siapa tentang ini...” (takut)
Jefri                 : (ketakutan dan tidak berkata apa-apa)

Keesokan harinya....
            Nata berangkat sekolah dengan biasa, namun yang berbeda sepertinya dia tidak punya semangat untuk menjalani hari karena kejadian kemarin.

Icha     : “Sabar ya... aku turut berduka atas kejadian kemarin itu...”
Doni     : “Tapi yang membuat aku penasaran kenapa Laila bisa terkunci di dalam sana.”
Nata    : “Hahhhh... Sudahlah...!!!!  Jangan membahas ini lagi” (marah dan bergegas pergi)
Doni     : “Maafkan aku... Hmmm”
Icha     : “Biarkan dia. Kasihan, mungkin dia lagi nggak ingin diganggu.”
Sinta    : “Hai... bagaimana kabar kalian... ?”
Icha     : “Hhhah. Kamu ini... “ (pergi)
Sinta    : “Ada apa?? Memangnya ada yang salah ya...  “
Doni     : “Aku sendiri pun tak tahu...”

Di kelas...
Icha     : “Kasihan aku setiap melihat Nata yang selalu murung. “
Doni     : “Jalan satu-satunya adalah kita harus mencari tahu kenapa Laila bisa terkunci
  didalam toilet itu.”
Sinta    : “Aku sependapat denganmmu...”
Icha     : “CCTV??” (pergi)
Sinta    : “Icha, mau kemana??”
Doni     : “Ayo ikuti saja...” (berlari)

Di depan toilet tempat Laila terkunci...
Icha     : “Bagus... disini ada?? Dimana melihat layar CCTV ini...”
Doni     : “Mungkin Di Lab. Komputer...”
            Tiga anak ini pun berlari menuju ruang Komputer. Di tengah perjalanan...
Sinta    : “Eh tunggu dulu...”
Doni     : “Ada apa??”
Sinta    : “Lihat ini...”
Icha     : “Ini kan Kak Ike. Siapa yang pasang ini??”
Doni     : “Sudah ayo kita pergi...”
Icha     : “Ini dia...” (melihat rekaman CCTV)
Doni     : “Coba lihat rekaman kemarin...”
Sinta    : “Itu Laila mau ke toilet...”
Doni     : “Lihat-lihat ada yang datang.”
Icha     : “Siapa dua orang ini.??”
Sinta    : “Mungkin mereka yang akan mengunci Laila...”
Doni     : “Belum tentu... Bisa saja mereka memang mau ke toilet...”
Icha     : “Kamu benar, selagi kita tidak punya bukti yang kuat kita tidak boleh menuduh”

Disisi lain Ike dan Jefri sedang berjalan sambil bercakap-cakap...
Jefri     : “Aku mulai takut bagaimana kalau kita ketahuan...”
Ike       : “Itu tidak akan terjadi jika tak ada yang buka mulut...”
Jefri     : “Tapi kan waktu itu kita yang menjadi pengurus kelasnya... apalagi itu saat
              kita memberi hukuman padanya... pasti kan beberapa orang akan mencurigai...
              (kaget melihat poster di mading)... Ike... benar kan kataku....”
Ike       : “Brengseekkk... Siapa yang memasang ini...”
            Ike pun pergi ke kelas Nata....
Jefri     : “Ke... tunggu... mau kemana kau??”
Ike       : “Pasti anak yang izin ke toilet itu...”
            Menghampiri Nata...
Ike       : “Kamu pasti yang memasang ini kan...? “
Nata    : “Tidak...”
Ike       : “Katakan yang sebenarnya... Apa kamu yang memasang ini??”
Jefri     : “Sudahlah... mungkin memang bukan dia....”
            Ike dan Jefri pun keluar kelas bersamaan dengan Icha, Doni, Sinta yang baru saja dari ruang Komputer tadi...
Doni     : “Ada apa ini??”
Icha     : “Nat, ada apa? Kenapa mereka kesini...”
Nata    : “Tidak ada apa-apa”
Sinta    : “Jujurlah... Kami pasti membantumu...”
Doni     : “Iya... Katakan saja. Jangan takut...”
Nata    : “Sudahlah, kalian pergi saja...”
Doni     : “Kamu tidak mau mengatakannya...”
Icha     : “Sudahlah kalian berdua pergi sana. Aku ingin berbicara berdua dengannya...”
Doni     : “Ya sudahlah kalau memang kamu nggak mau mengatakan... Ayo kita pergi “
(mengajak Sinta pergi...)
Icha     : “Nata, kita itu sudah berteman sejak SMP. Kenapa kamu tertutup sama kita. Nggak
 usah takut. Siapa katakan yang berani mengancammu...”
Nata    : “Tidak ada, sungguh...”
Icha     : “Ya sudah kalau memang tidak ada... Kamu masih ingat tidak... Ada yang membuat
              kamu janggal waktu itu?? Atau mungkin kau menemukan sesuatu...”

KAMERA JALAN MUNDUR MENUJU KE JEFRI DAN IKE

Ike       : “Kamu harus janji denganku. Tidak akan bilang ke siapa-siapa tentang ini...”
Jefri     : “Tentu saja, tidak akan pernah. Aku kan terlibat langsung...”
Ike       : “Tapi semua ini mutlak salah aku.... Dan pasti aku yang lebih dulu kena...
               Lihat tadi... Kenapa ada yang tahu... sampai dia membuat poster seperti itu”.
Jefri     : “Mungkin saja yang memasang itu hanya sekedar menebak...”
Ike       : “Tapi kenapa tebakannya begitu tepat sasaran...” (takut)
Jefri     : “Sudahlah aku juga takut... Kita berdua yang akan menanggungnya...”
Ike       : (Melihat tangannya) “Jam tanganku...?”
Jefri     : “Barang kali kau tidak membawanya... Ketinggalan di rumah...”
Ike       : “Aku lupa... seingatku dari tadi malam aku tidak memakainya...”
Jefri     : “Padahal aku kemarin masih melihatnya...”

KEMBALI KE KELAS NATA DAN ICHA...
Nata    : “Aku hanya menemukan ini...” (memberikan jam tangan)
Icha     : “Jam tangan siapa ini?”
Nata    : “Aku sendiri juga tidak tahu...”
Icha     : “Ya sudah. Kamu harus tabah, perjalanan kita masih jauh. Kalau  kamu begini terus
              masa depan kita akan semakin jauh...”

            Hari lain Icha dan kawan-kawan masih menyelediki kasus itu... Mereka bersama
Pergi ke Kak Jefri...
Icha     : “Permisi, Kak... saya boleh bertanya sesuatu..”
Jefri     : “Tanya apa??”
Icha     : “Tentang masalah Laila. Kakak kan waktu itu duduk-duduk didepan kelas. Apa
              kakak tidak melihat seseorang pergi ke toilet...”
Jefri     : “Tidak... aku tidak melihat siapa-siapa”
Icha     : “Tapi kak...”
Jefri     : “Sudah-sudah aku mau ke kelas...”
Doni     : “Kamu ngomong apa? Koq kak Jefri seperti ketakutan begitu...”
Icha     : “Sepertinya aku melihat keganjalan padanya. Nanti ikut denganku ya...”
Doni     : “Kemana??? “
Icha     : “Sudahlah ikut saja.”

            Waktu di kelas...
Sinta    : “Eh kamu sudah ngerjain PR belum??”
Doni     : “Alaahh... nggak penting itu...”
Sinta    : “Yahhh... eh ada berita terbaru apa nih...”
Doni     : “Si Icha kayaknya sudah mulai curiga sama seseorang...”
Sinta    : “Siapa? Siapa?”
Doni     : “Hhhmmm... Entahlah dia tidak memberi tahuku...”

            Waktu istirahat
DI KELAS WAKTU PELAJARAN BEL BERBUNYI...
Icha     : “Ayo kalian berdua ikut aku...”
Sinta    : “Kemana??”
Doni     : “Ikut saja...”
Sinta    : “Kenapa kita ke kelas Kak Ike...”
Doni     : “Bukan ini kelas Kak Jefri...”
Sinta    : “Hhhmm... kamu ini. Kak Ike dan Kak Jefri kan satu kelas...”
Doni     : “O.. begitu ya hehe”
Icha     : “Sudah diam... Eh kak Ike, Kak Jefri dimana?”
Ike       : “Hmm... mungkin dia di kantin. Memangnya ada apa?”
Icha     : “O.. ya sudah makasih kak...”
Ike       : “Kenapa mereka mencari Jefri ya... Jangan-jangan??” (Ikut ke kantin mengintip...)
            Ke kantin...
Jefri yang tahu Icha segera mau pergi
Icha     : “Eh kak... jangan pergi dulu...saya boleh nanya satu lagi nggak?? Pliisss...”
Jefri kembali duduk...
Icha     : “Eh mana jam tangannya..?”
Doni     : “Ini...ini” (mengambil jam di sakunya...)
Icha     : “Kakak tahu nggak ini jam tangan siapa??”
Jefri kaget melihat jam tangan Ike...
Icha     : “Kakak ... tahu ini jam siapa?”
Jefri     : “Ow.. tidak kakak-kakak tidak tahu ini jam siapa.. sudah ya kakak pergi dulu”
(buru-buru)

IKE MENGINTIP
JEFRI BURU-BURU PERGI KE IKE....

Jefri     : “Gawat... situasi sudah berbahaya. Mereka menyelediki kasus ini. Dan parahnya
              mereka membawa jam tangannmu...”
Ike       : “Sudah... sudah cukup jelas semuanya. Aku sudah melihatnya sendiri. Mereka tadi
              juga datang padaku... Dan yang lebih parahnya mereka akan tahu semuanya...”
Jefri     : “Kamu jangan berkata begitu. Aku takut nih...”
Ike       : “Jangan berkata bagaimana....!!!! Mereka sudah membawa jam tanganku pasti
              mereka tahu...”
Jefri     : “Tapi kan mereka tidak tahu kalau jam itu milikmu...”
Ike       : “Tolooollll... di jam itu ada namakuuuu...”
Jefri     : “Apa...??? Tamatlah sudah kita. Kita pasti akan di penjara...”

DISISI LAIN....
Sinta    : “Kira-kira jam siapa itu??”
Icha     : “Hmmm... eh kamu kemarin ngopy rekaman CCTV yang di Lab nggak?”
Doni     : “Ya...ya... ada di laptopku...”
Icha     : “Mana laptopmu??”
Doni     : “Di kelas...”

DI KELAS...
Icha     : “Cepat mana laptopmu”
Doni     : “Bentarr...”
Nata    : “Ada apa ini??”
Doni     : “Nata..?? Ini Icha mulai menemukan siapa pelakunya...”
Nata    : “Kamu masih memikirkan hal ini... aku saja sudah berusaha melupakannya...”
Icha     : “Masalah Laila kita memang mencoba tabah. Tapi kita harus menemukan
   pelakunya”
Doni     : “Cha, lihat orang yang mau ke toilet itu menggunakan jam tangan yang sama persis
              dengan jam yang ditemukan Nata.”
Sinta    : “Berarti bukti satu-satunya adalah jam tangan ini...”
Icha     : “Kita harus mengumumkan jam milik siapa ini?”
Sinta    : “Ya... dengan  itu kita akan tahu pelakunya siapa...”
Nata    : “Tidak semudah itu...”
Icha     : “Tapi kita akan berusaha keras. Kau mau membantu kita kan?”. (Pergi)
Doni     : “Eh tunggu... lihat jam ini ada tulisan...”
Icha     : “Keke??? Siapa Keke?”
Sinta    : “Keke itu panggilan akrabnya kan Ike...”
Icha     : “Apaa...?? Jadi...?? Kak Ike lah yang mengunci Laila di toilet...” (Pergi)
Doni     : “Benar sekali.. Akhirnya kita temukan juga misteri ini...” (Pergi bersama Sinta)
Nata    : “Teman-teman tunggu...”

KE KELAS IKE
Icha     : “Kak Ike...”
Ike       : “Ichaa... Maafkan aku. Aku menyesal”.
Jefri     : “Maafkan aku juga. Ini kesalahan kita berdua. Tapi sebenarnya kita tidak sengaja
              kita tidak berniat untuk membunuhnya. Kita hanya iseng-iseng saja. Tapi kita
              tidak berfikir kalau sampai begini. Maafkan kami...”
Nata    : “Sudahlah teman-teman. Kakak ini kan sudah minta maaf. Lagian hidup mati
              seseorang itu sudah diatur. Dan pasti ada jalannya sendiri-sendiri menuju kematian
  itu. Aku sebenarnya sudah tahu semuanya dari awal. Namun aku diam saja dan ber
              usaha melupakan. Dan maafkan saya Kak Ike sebenarnya yang memasang poster
  itu aku. Waktu itu aku hanya luapan emosi saja. Dan Icha kamu kan yang bilang
  sendiri, kalau masa depan kita masih panjang. Kita tidak bisa begini terus. Kita
  harus maju. Dan untuk Kak Ike ini jadikan ini pengalaman dan jangan sampai
  lagi. Lupakan saja kejadian ini anggap tidak terjadi apa-apa. Kami sudah berusaha
  ikhlas dan aku yakin keluarga Laila juga memaafkan. Dan untuk kita teman-teman,
  kita adalah penerus organisasi sekolah ini. Kita harus hapuskan Cap Kekerasan
 dalam MOS. Agar tidak ada lagi yang di kecewakan. Setuju teman-teman....”

Akhirnya mereka pun melupakan kejadian ini. Dan mulai menjalani hari-hari mereka seperti anak sekolah biasa. Setahun kemudian Ike dan Jefri Lulus. Nata, Icha, Doni, Sinta pun menggantikan posisi mereka menjadi Osis dan mengubah tradisi sekolahnya yang buruk-buruk menjadi hal yang baik-baik...


TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar