DETEKTIF
MELIHATKAN HALAMAN SEKOLAH DAN MENUJU KE KELAS...
Sudah menjadi hal umum atau bahkan bisa di
katakan tradisi jika disetiap tahun ajaran baru, semua murid baru harus
mengikuti MOS. Dan wajarnya MOS menjadi sebuah alat kekerasan yang diberikan
kakak kelas kepada adik kelas barunya itu. Hal ini juga di alami ol
eh Laila,
Nata, Icha, Doni dan Sinta murid asal SMPN Harapan. Dan sekarang dia
bersama-sama sedang mendapatkan pengarahan dari kakak OSIS di SMAN Nusa Bangsa.
Kakak OSIS : “Selamat
pagi adik-adik... sekarang tugas kalian hari ini adalah
mencari tanda tangan
dari teman atau kakak-kakak kelas yang bulan
kelahirannya sama dengan
bulan kelahiran masing-masing. Dan
minimal harus
mendapatkan 100 tanda tangan. Jika tidak kami akan
beri kalian hadiah yang
paling spesial. Membersihkan WC sekolah.
Oke...???”
Adik Kelas : “Mengerti Kak...” (Bersama-sama)
Kakak OSIS : “Ya... waktunya mulai sekarang. Ayo
cepet! “
Memang yang membuat para orang tua khawatir
adalah jika kakak kelas dari anaknya itu berbuat semena-mena tanpa memikirkan
apa yang akan terjadi kedepannya.
Kakak OSIS : “Siapa di kelas ini yang mendapatkan tanda
tangan kurang dari 100?? Maju kedepan,
sekarang!!! Cepaattt...”
Laila : “(Maju) Maaf kak... saya baru
mendapatkan 95 Tanda tangan.”
Kakak OSIS : “Yaahhh... berarti kamu tahu kan
konsekuensinya apa??”
Laila : “Tahu kak...”
Kakak OSIS : “Ya sudah pergi sana...
Sudah
yang lainnya sekarang boleh istirahat...”
(Semuanya : Ya...kak
)
Laila pun pergi
sambil membawa alat pel menuju toilet sekolah... tanpa disadarinya salah
seorang Kakak OSIS mengikutinya dari belakang dan berniat akan menguncinya di
WC.
OSIS Ike : “Kita
kerjain sekalian aja anak ini.” (tertawa)
OSIS Jefri : “Oke...
gue setuju.”
Setelah masuk
ke toilet. Dan mulai membersihkan, tiba-tiba pintu toliet tertutup. Dan Laila
berusaha membukanya.
Laila : “Tolong... tolong... ada orang
diluar?? Saya terkunci di dalam sini.”
Kakak OSIS hanya bisa
tertawa dan meninggalkan Laila.
Beberapa menit kemudian tak ada suara lagi dalam toilet.
Jefri : “Eh ngomong-ngomong gimana anak
tadi...??”
Ike : “Haalah... biarkan aja dulu.“
Jefri : “Jangan keterlaluan ya... kasihan
juga anak orang itu. Aku nggak ikut
campur kalau ada apa-apa lo...”
Ike : “Nggak bakalan terjadi apa-apa koq
tenang aja. Lagian Cuma di kunci
aja...”
Kemudian Nata teman Laila pergi ke toilet dan mencoba membukakan
pintunya. Setelah di buka Laila sudah tergeletak di toilet.
Nata : “Kak
izin mau ke toilet dulu...”
Ike : “Iya,
cepat kembali”
Nata pun berusaha
mencari Laila...
Nata : “Laila...laila...
kamu dimana? Ini aku Nata.” (membuka pintu toilet satu satu)
“Dimana ya laila... mungkin disana”.
Laila...(mengetok pintu
toilet) kamu di dalam?? Kenapa pintunya terkunci??”
Pak bon datang...
Nata : “Pak
bisa minta pintu toilet yang ini...”
Setelah di buka Nata dengan terkejut...
Nata : “Tidaaakkkk.....!!!!!”
(melihat Laila yang tergeletak tak berdaya)
Ike dan Jefri pun berlari...
Ike : “Jangan
pernah bilang ke siapa-siapa tentang ini...” (takut)
Jefri :
(ketakutan dan tidak berkata apa-apa)
Keesokan harinya....
Nata berangkat
sekolah dengan biasa, namun yang berbeda sepertinya dia tidak punya semangat
untuk menjalani hari karena kejadian kemarin.
Icha : “Sabar ya... aku
turut berduka atas kejadian kemarin itu...”
Doni : “Tapi yang
membuat aku penasaran kenapa Laila bisa terkunci di dalam sana.”
Nata : “Hahhhh...
Sudahlah...!!!! Jangan membahas ini lagi”
(marah dan bergegas pergi)
Doni : “Maafkan aku...
Hmmm”
Icha : “Biarkan dia.
Kasihan, mungkin dia lagi nggak ingin diganggu.”
Sinta : “Hai...
bagaimana kabar kalian... ?”
Icha : “Hhhah. Kamu
ini... “ (pergi)
Sinta : “Ada apa??
Memangnya ada yang salah ya... “
Doni : “Aku sendiri pun
tak tahu...”
Di kelas...
Icha : “Kasihan aku
setiap melihat Nata yang selalu murung. “
Doni : “Jalan
satu-satunya adalah kita harus mencari tahu kenapa Laila bisa terkunci
didalam toilet itu.”
Sinta : “Aku sependapat
denganmmu...”
Icha : “CCTV??” (pergi)
Sinta : “Icha, mau
kemana??”
Doni : “Ayo ikuti
saja...” (berlari)
Di depan toilet tempat
Laila terkunci...
Icha : “Bagus... disini
ada?? Dimana melihat layar CCTV ini...”
Doni : “Mungkin Di Lab.
Komputer...”
Tiga anak ini pun berlari menuju ruang
Komputer. Di tengah perjalanan...
Sinta : “Eh tunggu
dulu...”
Doni : “Ada apa??”
Sinta : “Lihat ini...”
Icha : “Ini kan Kak
Ike. Siapa yang pasang ini??”
Doni : “Sudah ayo kita
pergi...”
Icha : “Ini dia...”
(melihat rekaman CCTV)
Doni : “Coba lihat
rekaman kemarin...”
Sinta : “Itu Laila mau
ke toilet...”
Doni : “Lihat-lihat ada
yang datang.”
Icha : “Siapa dua orang
ini.??”
Sinta : “Mungkin mereka
yang akan mengunci Laila...”
Doni : “Belum tentu...
Bisa saja mereka memang mau ke toilet...”
Icha : “Kamu benar,
selagi kita tidak punya bukti yang kuat kita tidak boleh menuduh”
Disisi lain Ike dan
Jefri sedang berjalan sambil bercakap-cakap...
Jefri : “Aku mulai
takut bagaimana kalau kita ketahuan...”
Ike : “Itu tidak akan
terjadi jika tak ada yang buka mulut...”
Jefri : “Tapi kan waktu
itu kita yang menjadi pengurus kelasnya... apalagi itu saat
kita memberi hukuman padanya... pasti kan
beberapa orang akan mencurigai...
(kaget
melihat poster di mading)... Ike... benar kan kataku....”
Ike : “Brengseekkk...
Siapa yang memasang ini...”
Ike pun pergi ke kelas Nata....
Jefri : “Ke...
tunggu... mau kemana kau??”
Ike : “Pasti anak
yang izin ke toilet itu...”
Menghampiri Nata...
Ike : “Kamu pasti
yang memasang ini kan...? “
Nata : “Tidak...”
Ike : “Katakan yang
sebenarnya... Apa kamu yang memasang ini??”
Jefri : “Sudahlah...
mungkin memang bukan dia....”
Ike dan Jefri pun keluar kelas bersamaan
dengan Icha, Doni, Sinta yang baru saja dari ruang Komputer tadi...
Doni : “Ada apa ini??”
Icha : “Nat, ada apa?
Kenapa mereka kesini...”
Nata : “Tidak ada
apa-apa”
Sinta : “Jujurlah...
Kami pasti membantumu...”
Doni : “Iya... Katakan
saja. Jangan takut...”
Nata : “Sudahlah, kalian
pergi saja...”
Doni : “Kamu tidak mau
mengatakannya...”
Icha : “Sudahlah kalian
berdua pergi sana. Aku ingin berbicara berdua dengannya...”
Doni : “Ya sudahlah
kalau memang kamu nggak mau mengatakan... Ayo kita pergi “
(mengajak Sinta pergi...)
Icha : “Nata, kita itu
sudah berteman sejak SMP. Kenapa kamu tertutup sama kita. Nggak
usah
takut. Siapa katakan yang berani mengancammu...”
Nata : “Tidak ada,
sungguh...”
Icha : “Ya sudah kalau
memang tidak ada... Kamu masih ingat tidak... Ada yang membuat
kamu janggal waktu itu?? Atau mungkin kau
menemukan sesuatu...”
KAMERA JALAN MUNDUR MENUJU KE JEFRI DAN IKE
Ike : “Kamu harus
janji denganku. Tidak akan bilang ke siapa-siapa tentang ini...”
Jefri : “Tentu saja,
tidak akan pernah. Aku kan terlibat langsung...”
Ike : “Tapi semua ini
mutlak salah aku.... Dan pasti aku yang lebih dulu kena...
Lihat tadi... Kenapa ada yang tahu... sampai
dia membuat poster seperti itu”.
Jefri : “Mungkin saja
yang memasang itu hanya sekedar menebak...”
Ike : “Tapi kenapa
tebakannya begitu tepat sasaran...” (takut)
Jefri : “Sudahlah aku
juga takut... Kita berdua yang akan menanggungnya...”
Ike : (Melihat
tangannya) “Jam tanganku...?”
Jefri : “Barang kali
kau tidak membawanya... Ketinggalan di rumah...”
Ike : “Aku lupa...
seingatku dari tadi malam aku tidak memakainya...”
Jefri : “Padahal aku
kemarin masih melihatnya...”
KEMBALI KE KELAS NATA DAN ICHA...
Nata : “Aku hanya
menemukan ini...” (memberikan jam tangan)
Icha : “Jam tangan
siapa ini?”
Nata : “Aku sendiri juga
tidak tahu...”
Icha : “Ya sudah. Kamu
harus tabah, perjalanan kita masih jauh. Kalau
kamu begini terus
masa depan kita akan semakin jauh...”
Hari lain Icha
dan kawan-kawan masih menyelediki kasus itu... Mereka bersama
Pergi ke Kak Jefri...
Icha : “Permisi, Kak...
saya boleh bertanya sesuatu..”
Jefri : “Tanya apa??”
Icha : “Tentang masalah
Laila. Kakak kan waktu itu duduk-duduk didepan kelas. Apa
kakak tidak melihat seseorang pergi ke
toilet...”
Jefri : “Tidak... aku
tidak melihat siapa-siapa”
Icha : “Tapi kak...”
Jefri : “Sudah-sudah
aku mau ke kelas...”
Doni : “Kamu ngomong
apa? Koq kak Jefri seperti ketakutan begitu...”
Icha : “Sepertinya aku
melihat keganjalan padanya. Nanti ikut denganku ya...”
Doni : “Kemana??? “
Icha : “Sudahlah ikut
saja.”
Waktu di kelas...
Sinta : “Eh kamu sudah
ngerjain PR belum??”
Doni : “Alaahh... nggak
penting itu...”
Sinta : “Yahhh... eh ada
berita terbaru apa nih...”
Doni : “Si Icha
kayaknya sudah mulai curiga sama seseorang...”
Sinta : “Siapa? Siapa?”
Doni : “Hhhmmm...
Entahlah dia tidak memberi tahuku...”
Waktu istirahat
DI KELAS WAKTU PELAJARAN BEL BERBUNYI...
Icha : “Ayo kalian
berdua ikut aku...”
Sinta : “Kemana??”
Doni : “Ikut saja...”
Sinta : “Kenapa kita ke
kelas Kak Ike...”
Doni : “Bukan ini kelas
Kak Jefri...”
Sinta : “Hhhmm... kamu
ini. Kak Ike dan Kak Jefri kan satu kelas...”
Doni : “O.. begitu ya
hehe”
Icha : “Sudah diam...
Eh kak Ike, Kak Jefri dimana?”
Ike : “Hmm... mungkin
dia di kantin. Memangnya ada apa?”
Icha : “O.. ya sudah
makasih kak...”
Ike : “Kenapa mereka
mencari Jefri ya... Jangan-jangan??” (Ikut
ke kantin mengintip...)
Ke kantin...
Jefri yang tahu Icha
segera mau pergi
Icha : “Eh kak...
jangan pergi dulu...saya boleh nanya satu lagi nggak?? Pliisss...”
Jefri kembali duduk...
Icha : “Eh mana jam
tangannya..?”
Doni : “Ini...ini” (mengambil jam di sakunya...)
Icha : “Kakak tahu
nggak ini jam tangan siapa??”
Jefri kaget melihat jam
tangan Ike...
Icha : “Kakak ... tahu
ini jam siapa?”
Jefri : “Ow.. tidak
kakak-kakak tidak tahu ini jam siapa.. sudah ya kakak pergi dulu”
(buru-buru)
IKE MENGINTIP
JEFRI BURU-BURU PERGI KE IKE....
Jefri : “Gawat...
situasi sudah berbahaya. Mereka menyelediki kasus ini. Dan parahnya
mereka membawa jam tangannmu...”
Ike : “Sudah... sudah
cukup jelas semuanya. Aku sudah melihatnya sendiri. Mereka tadi
juga datang padaku... Dan yang lebih parahnya
mereka akan tahu semuanya...”
Jefri : “Kamu jangan
berkata begitu. Aku takut nih...”
Ike : “Jangan berkata
bagaimana....!!!! Mereka sudah membawa jam tanganku pasti
mereka tahu...”
Jefri : “Tapi kan
mereka tidak tahu kalau jam itu milikmu...”
Ike : “Tolooollll...
di jam itu ada namakuuuu...”
Jefri : “Apa...???
Tamatlah sudah kita. Kita pasti akan di penjara...”
DISISI LAIN....
Sinta : “Kira-kira jam
siapa itu??”
Icha : “Hmmm... eh kamu
kemarin ngopy rekaman CCTV yang di Lab nggak?”
Doni : “Ya...ya... ada
di laptopku...”
Icha : “Mana laptopmu??”
Doni : “Di kelas...”
DI KELAS...
Icha : “Cepat mana
laptopmu”
Doni : “Bentarr...”
Nata : “Ada apa ini??”
Doni : “Nata..?? Ini
Icha mulai menemukan siapa pelakunya...”
Nata : “Kamu masih
memikirkan hal ini... aku saja sudah berusaha melupakannya...”
Icha : “Masalah Laila
kita memang mencoba tabah. Tapi kita harus menemukan
pelakunya”
Doni : “Cha, lihat
orang yang mau ke toilet itu menggunakan jam tangan yang sama persis
dengan jam yang ditemukan Nata.”
Sinta : “Berarti bukti
satu-satunya adalah jam tangan ini...”
Icha : “Kita harus
mengumumkan jam milik siapa ini?”
Sinta : “Ya...
dengan itu kita akan tahu pelakunya
siapa...”
Nata : “Tidak semudah
itu...”
Icha : “Tapi kita akan
berusaha keras. Kau mau membantu kita kan?”. (Pergi)
Doni : “Eh tunggu...
lihat jam ini ada tulisan...”
Icha : “Keke??? Siapa Keke?”
Sinta : “Keke itu
panggilan akrabnya kan Ike...”
Icha : “Apaa...??
Jadi...?? Kak Ike lah yang mengunci Laila di toilet...” (Pergi)
Doni : “Benar sekali..
Akhirnya kita temukan juga misteri ini...” (Pergi bersama Sinta)
Nata : “Teman-teman
tunggu...”
KE KELAS IKE
Icha : “Kak Ike...”
Ike : “Ichaa...
Maafkan aku. Aku menyesal”.
Jefri : “Maafkan aku
juga. Ini kesalahan kita berdua. Tapi sebenarnya kita tidak sengaja
kita tidak berniat untuk membunuhnya. Kita
hanya iseng-iseng saja. Tapi kita
tidak berfikir kalau sampai begini. Maafkan
kami...”
Nata : “Sudahlah
teman-teman. Kakak ini kan sudah minta maaf. Lagian hidup mati
seseorang itu sudah diatur. Dan pasti ada
jalannya sendiri-sendiri menuju kematian
itu. Aku sebenarnya
sudah tahu semuanya dari awal. Namun aku diam saja dan ber
usaha melupakan. Dan maafkan saya Kak Ike
sebenarnya yang memasang poster
itu aku. Waktu itu aku
hanya luapan emosi saja. Dan Icha kamu kan yang bilang
sendiri, kalau masa
depan kita masih panjang. Kita tidak bisa begini terus. Kita
harus maju. Dan untuk
Kak Ike ini jadikan ini pengalaman dan jangan sampai
lagi. Lupakan saja
kejadian ini anggap tidak terjadi apa-apa. Kami sudah berusaha
ikhlas dan aku yakin
keluarga Laila juga memaafkan. Dan untuk kita teman-teman,
kita adalah penerus
organisasi sekolah ini. Kita harus hapuskan Cap Kekerasan
dalam MOS. Agar tidak ada
lagi yang di kecewakan. Setuju teman-teman....”
Akhirnya mereka pun melupakan kejadian ini.
Dan mulai menjalani hari-hari mereka seperti anak sekolah biasa. Setahun
kemudian Ike dan Jefri Lulus. Nata, Icha, Doni, Sinta pun menggantikan posisi
mereka menjadi Osis dan mengubah tradisi sekolahnya yang buruk-buruk menjadi
hal yang baik-baik...


Tidak ada komentar:
Posting Komentar