Gerbang sekolah yang menyambut, beribu siswa
bergerombol ramai menunggu nomer urut pendaftaran masuk SMA tahun itu. Mungkin
semua anak-anak itu tak akan menyangka semua. Berdirinya mereka disana meski
tak saling kenal nantinya akan mencetak sebuah sejarah. Sejarah yang tak
mungkin semudah membalik telapak tangan mereka melupakannya. Dan akan
menjadi...
Bayang Abadi
Kisah ini berawal dari sebuah rasa. Rasa...
yang tak sampai dari seorang gadis mungil di pinggiran kota. Andy, menuntut
ilmu di sebuah sekolah negeri paling favorit di kota itu. Bersama-sama teman
sebaya lainnya, mereka punya tekad dan tujuan yang sama, akan jadi seseorang
yang sukses nantinya. Dengan 32 siswa dalam satu ruang, Andy belajar layaknya
siswa. Mungkin tak pernah mereka sadari, yang di alaminya semua saat ini adalah
suatu sejarah yang natinya tak akan punah dari ingatan mereka.
Setiap
hari mereka jalani dengan biasa-biasa saja seperti seorang siswa wajarnya. Satu
siswa denga yang lain mulai mendekat, mereka mulai akrab sebagai teman.
Berbulan-bulan pun berlalu begitu saja.
“Dari
awal sampai saat ini, aku seperti belum mendapatkan apa-apa...” bayangan Andy pada teman-temannya.
Memang
waktu seperti berjalan begitu cepatnya serasa belum merasakan apa yang
sebenarnya dia inginkan.
“Aku juga merasakannya...seperti ada yang
sia-sia kurasakan” Jawab Dimas teman
dekat Andy saat ini.
Ada
sisi aneh yang dirasakna oleh Andy. Setiap waktu, detik, setiap malam, dia
selalu berpikir ada apa sebenarnya. Dari pagi itulah dia mencoba mengatasinya.
Dengan sedikit merubah jalan, dia memulai lagi dari awal. Andy sedikit demi
sedikit merubah segalanya, namun tak sampai merubahn tujuan awal saat dia masuk
dalam kelas itu. Semua itu akan selalu jadi cita-cita yang ingin digapainya
nanti.
“kau sedikit berubah minggu-minggu ini, tak
seperti biasanya” bingun si Dimas.
“Mungkin tak akan jadi sis-sia jika aku
merubahnya dari sekarang” Jelas Andy.
Hari-hari
dirasakan oleh teman-temanya, terutama Andy sendiri yang meras dirinya semakin
berubah jauh. Apalagi setiap menatap laki-laki itu. Indra, adalah seorang siswa
yang pandai dan punya banyak prestasi selam di sekolah itu. Mungkin yang
membuat Andy berubah adalah dia selalu berfikir...
“Seorang laki-laki yang jelas sudah masa
depannya, mungkin idaman yang selalu aku cari selama ini” curhatan Andy
pada sahabatnya.
Dari
sudut pandangya selalu ada perbedaan dari
Indra dengan laki-laki lain yang dibayangkan Andy. Senyuman manis itu
tergambar pada wajah Andy saat melihat Indra. Mungkin ini pertama kalinya Andy
selalu bahagia setiap memandang Indra, laki-laki yang beberapa minggu ini yang
selalu di pandangnya. Namun tak pernah disadari Indra jika dia sedang
diperhatikan oleh Andy.
Andy
pun mulai memberanikan diri menampakan wajahnya dengan Indra.
“Hai... apa kabarmu?” basa-basi Andy.
Mungkin kaget bagi Indra di
dekati oleh seorang perempuan.
“Hai juga” jawab cuek Indra.
“Sepertinya aku menanyakan pertanyaan yang salah. Pasti tak pernah jika
dirimu itu dalam keadaan buruk” dengan pedenya Andy menjawab.
“Kenapa tidak? Aku juga manusia biasa” bantah Indra.
“Memang benar. Tapi kalau melihatmu, apanya yang buruk dari dirimu,
selalu terlihat istimewa dengan segudang prestasimu” Jelas panjang lebar
Andy.
Memang di mata Andy, Indra itu
sempurna. Tapi tak sama seperti yang di alami Indra sesungguhnya. Indra tak
sesempurna itu, dia tak pernah mengingkan jika dia itu punya beribu-ribu piala
dan piagam penghargaan seperti yang terlihat selama ini. Dia ingin jadi siswa
seperti layaknya siswa lainnya. Selalu belajar di kelas, mendapatkan materi
dari guru, tak pernah diistimewakan ataupun bergaul dengan teman-teman
sebayanya. Indra selalu risih jika selalu diistimewakan. Apalagi selama
minggu-minggu terakhir ini, dia tak pernah masuk ke kelasnya. Jadi hal mustahil
jika dia mengenal semua nama teman sekelasnya. Untuk masuk ke kelasnya saja,
dia tak pernah.
“Kenapa kau berfikir seperti orang gila begitu. Padahal yang selalu di
inginkan setiap siswa itu menjadi sepertimu. Seharusnya kau merasa beruntung
selalu mendapatkan keistimewaan dari guru-guru” Fikir Andy.
“Memang
semua lebih enak dibayangkan, daripada di jalani kenyataannya” Cuek Indra dan langsung pergi.
Inilah rasa yang selama ini
dirasakan Andy. Atau bisa dikatakan itu adalah cinta pertama yang Andy berikan
pada seorang laki-laki.
Hari itu cerah tak seperti
biasanya. Semakin menyinari wajah berseri Andy kala itu. Andy merasa semakin
lebih maju kedepan dari hari-hari sebelumnya. Minggu itu adalah minggu-minggu
dimana semua siswa melaksanakan ujian akhir semester. Bagi Andy dia harus mulai
dari hal yang terkecil untuk memulai awal dari kesuksesannya yang selalu jadi
bayang-bayangnya.
Kelas itu... Kelas Andy sekarang
semakin bewarna berkatnya. Dan semua siswa itu semakin merasa jika mereka tak
ingin dipisahkan satu sama lain. Mereka ingin menjadi sahabat sepanjang hidup
mereka. Seperti sebuah lem yang selalu lengket dan tak akan ada yang bisa
melepasnya. Namun tak selamany keadaan seperti, semua itu akan berakhir dan
berubah. Mereka tak akan selalu menjalani hidup mereka bersama-sama untuk
selamanya. Karena mereka memiliki kehidupan sendiri-sendiri dan bidangnya
masing-masing. Harus memilih jalan mana yang akan mereka tempuh nantinya.
Mereka memilih jurusan dan kelasnya masing-masing. Meskipun tak lagi sekelas,
setidaknya mereka masih satu sekolah dan bisa bertemu saat waktu istirahat tiba
dan itu akan terus terjadi sebelum mereka semua lulus dari sekolah itu. Namun
meski begitu tak dirasakan kedekatannya seperti dulu lagi.
Mungkin inilah sia-sia itu...
sia-sia dimana mereka tak benar-benar merasakan indahnya menjadi seorang
sahabat yang benar-benar sahabat. Apalagi Andy yang mulai mencintai Indra
semenjak itu.
“Kenapa semua tak seperti direncanakan. Semua tetap menjadi kesia-siaan
saja meski sudah berusaha keras” Keluh
kesah Andy.
“Benar jika Tuhan itu memiliki rencana sendiri” Kata Dimas.
Hari cerah itu sekarang berubah
jadi suram. Membuat sebuah mendung, dan meniupkan angin yang akan menurunkan
tetesan dari air hujan. Begitu suasana hati Andy sekarang ini.
Pertama kali di kelas baru, duduk
bersama teman baru, ditempat yang baru dengan suasana baru, itemani
lembaran-lembaran kertas yang baru pula.
“Dimana dia, seharian ini aku belum melihatnya” tanya-tanya Andy.
Mungkin dia sedang sibuk dengan
kegiatannya dan akan kembali dengan membawa sebuah kemenangan. Andy ingin
mengungkapkan isi hatinya pada Indra. Andy sedikit merasa gelisah dan khawatir
dengan Indra
“kenapa ini? Tak pernah aku se takut ini...” keresahan Andy.
Memang semenjak Andy mendekat,
semakin menjauh dengan Indra. Bahkan sebulan lalu Andy pun tak pernah melihat
kabar Indra sekalipun. Sebenarnya tanpa disadari Andy, Indra juga merasa
menyukai Andy. Namun sekarang tak akan bisa lagi. Indra harus berusaha tak
terlihat lagi dari pandangan Andy. Karena dia tahu, dia akan menyakiti Andy
nantinya. Andy tak pernah menyadari perkataan Indra waktu itu. Keinginan Indra
satu-satunya adalah menjadi siswa biasa... normal seperti biasa yang tak pernah
merasakan sakit, sakit hatinya karena satu hal yang menghabiskan jiwanya.
Andy tersadar setelah semuanya
telah berakhir. Setelah semua harapan-harapannya punah sudah. Penyakit
kankerlah yang membuat Indra jengkel jika ditanya bagaimana keadaannya. Indra
akan meninggalkan Andy untuk selamanya tanpa sedikitpun salam perpisahan dari
penyakit yang mengidap Indra sejauh ini. Membuat semakin terpukul dan sangat
kehilangan.
“Mungkin benar kat Indra, lebih indah jika semua ini hanya menjadi
bayangan saja” Kata hati sedih Andy.
Semua tak seindah dari kenyataan.
Sia-sia yang menghantui selama ini akhirnya terjadi sesuai takdir yang sudah
tertulis. Dunia ini tak akan selalu menjadi seperti yang kita inginkan. Semua
itu sudah menajdi aturan-Nya dan tak mungkin seseorang akan bisa menghindar
sejauh apapun dia akan berlari. Semua tak akan menjadi yang paling penting lagi
jika kita kembali pada-Nya. Bagi Andy sekarang adalah rasa cintalah yang akan
abadi dan jadi sebuah sejarah terbesar di kemudian hari...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar