Ini terjadi sekitar seminggu yang lalu tepatnya satu hari sebelum
hari kartini, namun semua berawal ketika aku akan tes drum waktu itu. Saat aku
akan masuk mungkin sedikit perasaan grogi pun muncul, tapi aku mencoba untuk
menenangkan diriku.
Ku mulai berdo’a supaya aku tidak
akan lupa cara memukul drum yang benar yang beberapa menit lalu sudah diajarkan
teman-temanku. Aku pun duduk di depan drum dan mulai memutar lagu untuk
kuiringi dengan main drum. Dengan kagetnya aku saat guru pembinaku mengatakan,
“Kamu siap-siap ya untuk lomba kriya...” dengan
hati yang deg-degan aku menjawab iya. Memang sih dulu aku sudah berjanji kalau
ada lomba-lomba seperti lukis atau lainnya aku yang akan maju untuk mewakili
sekolah kebanggaanku ini. Namun pada hari itu aku dalam posisi nerves karena
akan tes drum, jadi aku langsung spontan sampai aku ngeblank saat drum dan
melupakan semuanya. Jadi aku kurang maksimal saat tes itu. Satu kegagalan yang
kualami hari itu.
Kupersiapkan matang-matang segalanya
sampai akhirnya guruku mengusulkan untuk aku membuat sebuah karya dari kayu
randu, yaitu wayang thengul khas daerahku yaitu Bojonegoro. Memang sih tema
yang tertulis dalam brosur lomba adalah Kriya
Generasi Muda Sebagai Cinderamata Yang Khas Indonesia Untuk Pasar Global.
Ku pikir cocok sekali jika aku membuat wayang thengul sebagai hasil karyaku
dalam waktu 8 jam di lomba nanti.
Meskipun hanya satu minggu
mempersiapkan diri, tapi ku yakin itu sudah lebih dari cukup. Karena aku juga
sudah pernah mengalaminya sebelumnya meski lomba yang dulu tak begitu sangat
memuaskan hasilnya. Tapi dari pengalaman itu ku buat sebagai pacuan untuk lebih
baik dari kemarin.
Akhirnya hari H pun di mulai. Semua
teman-temanku lain yang juga berpartisipasi dalam bidangnya masing-masing pun
dikumpulkan. Dan sedikit penyemangat dari guruku. “Meskipun disana banyak yang lebih baik, anggap saja kita yang terbaik.
Jangan pernah merasa minder, dan semangat semoga kita bisa merampas semua
kejuaraann sampai titik darah penghabisan”. Kata-kata itu selalu ku camkan
dalam benatku. Aku tak mau membuat kekecewaan untuk keluarga, guru, dan
teman-temanku yang sudah mensupportku dari awal.
Tiba pun kita semua di arena lomba,
perasaan rendah sudah biasa dan aku anggap semuanya hanya setan yang mencoba
menghantuiku. Namun yang tak ku sangka, ku kira dalam waktu 8 jam itu adalah
membuat karyanya. Tapi ternyata hanya 5 jam dalam pengerjaan karya dan sisanya
digunakan untuk membuat konsep dan mempresentasikan hasil karya masing-masing.
Yang terlintas dalam fikiranku
adalah apakah aku mampu menyelesaikan wayang thengul dari kayu randu yang
rencana awal dengan waktu 8 jam sekarang berkurang 3 jam. Dengan perasaan yang
takut, aku mencoba untuk tetap optimis. Memang aku dulu pernah di kritik jika
aku ini sedikit lelet dalam mengerjakan sesuatu. Namun aku mencoba semua itu
sebagai spirit aku agar aku bisa membuktikan aku tidak seperti itu.
Dengan cekatan aku memulai menggarap
kayu-kayu randu menjadi sebuah karya yang nantinya bisa mengharumkan nama
sekolahku. Dengan alat-alat yang sudah kubawa, dan meski aku merasa sedikit
minder dengan orang-orang asing samping-sampingku aku menyelesaikannya.