Sabtu, 02 Februari 2013

INGIN KU UKIR SEMUA DALAM NOVEL INI



            Hari ini adalah hari yang sudah ku nanti selama satu tahun. Pernah ku bayangkan sebenarnya semua ini, tapi anehnya aku tak menyadari semua ini akan benar terjadi. Ku pikir aku hanya senang bidang ini, keinginan pun hanya sekedar bukan sebuah cita-cita.
            Semua berawal saat aku berangkat sekolah. Saat ku mulai langkahku menuju kelas tak ada firasat pun yang menunjukkan aku akan mendapat kejutan. Ku anggap ini seperti hari-hari biasa ku jalani setiap hariku. Namun salah seorang temanku menunjukkan sebuah brosur yang didalamnya berisi sebuah pengumuman lomba membuat komik. Memang dalam gambar-gambar menggambar aku cukup menguasai. Bukan untuk sombong, tapi aneh kan jika seorang juara tiga desain tekstil tak jago gambar. Memang sih beberapa minggu lalu aku di tunjuk untuk ikut lomba itu dan berhasil mendapat juara tiga dalam Kabupaten. Sebetulnya belum seberapa sih, tapi setidaknya menghadiahkan sebuah piala juara tiga kepada orang tuaku itu yang tidak biasa. Tidak semua anak bisa melakukan itu. Ya mungkin sedikit ada kebanggaan lain dari diriku.

            Mungkin soal lomba komik tadi, aku tak begitu tertarik. Komik kan tidak sekedar gambar saja. Ada cerita yang mengandungnya. Itulah yang menjadi masalah aku bukan seorang penulis cerpen. Butuh waktu yang lama untuk mengarang sebuah cerita yang menarik, tak seperti menggambar hanya butuh inspirasi dan bagaimana mana cara kamu menuangkan inspirasi itu. Tak butuh waktu lama mencari inspirasi. Coba saja di tempat yang tenang, pasti banyak inspirasi yang muncul di fikiranmu. Tempat tenang itu bukan berarti yang sepi.
            Sudahlah soal lomba komik lupakan saja. Waktunya jam pelajaran pertama. Guruku yang satu ini super gokil. Dari namanya saja sudah tergambarkan. Beliaulah yang mengajarkan kami mata pelajaran Kimia, meski aku tak begitu handal dalam pelajaran ini. Ya biarlah ku jalani saja, sekolah kan untuk menuntut berbagai macam ilmu bukan hanya pelajaran Kesenian saja.
            Mungkin tak sadar diriku kalau aku di panggil oleh teman samping kelasku. Pikirku yang bingung tak tahu ada apa. Karang teman sampingku, mungkin aku di suruh untuk ikut lomba komik tadi. Memang sih, teman-teman sekelasku mengakui kalau ada panggilan untukku pasti hubungan tentang Seni. Sehingga mudah saja mereka mengarang cerita untukku.
            Tak salah sih sebenarnya, tapi melencengnya jauh. Kemudian aku pun mengikuti teman yang memanggilku tadi. Langsung saja aku di suruh duduk di bangku depan kantin yang biasa digunakan anak-anak untuk makan.  Rasanya aku seperti di introgasi. Pertama aku di tanyai tentang ku yang juara tiga itu. Terus bagaimana koq bisa juara?. Sepertinya itu pertanyaan yang mudah sedikit konyol sih tapi bingung juga kalau di pikirkan jawabannya. Apa mungkin aku menjawab “Ya mungkin desainku bagus sehingga juri tertarik menjuarakan aku”. Konyol bukan dan tak mungkin aku menjawab seperti itu. Aku hanya bisa tersenyum soal itu. Berlanjut ke bagaimana desainmu? Terus apa reward-mu dari sekolah sudah kamu ambil?. Semua pertanyaan-pertanyaan tadi semakin tak membuat aku paham sebenarnya ada apa ini?.
            Mulai to do point-nya saja. Mereka membuat aku tak sanggup untuk berkata tidak saat mereka atau teman-temanku tadi menawari untuk aku ikut Lomba Mading Jawa Pos DetCon. Inilah yang tadi membuat aku tak menyadari kalau aku akan menjalani semua ini.
            Dari sinilah ceritaku ini semua berawal...

Perjalananku Bersama Boneka DET
Seminggu sebelumnya aku sudah menjalani hari dengan susah payah bersama untuk membuat sebuah madin tiga dimensi yang indah bertemakan Go Green Requesting yang nantinya akan memenuhi pagelaran Deteksi Convention Se-Jawa Timur ini. Kuakui awalnya aku tak begitu paham soal lomba ini. Aku hanya sekedar tahu saja. Dari teman sekelasku dulu yang memperlihatkanku beberapa foto-foto mading tahun lalu. Dalam hati ketertarikan bermunculan. Keinginan mengikuti lomba ini yang ku maksut sepertinya hanya di sekilas di benakku. Dan sekarang benar-benar terjadi meski belum membuat aku sadar seutuhnya. Satu minggu penuh aku selalu pulang tengah malam. Mungkin pikir orang tuaku ini lomba lanjutan dari lomab yang kemarin itu. Dan aku belum menjelaskan sejelasnya.
Satu minggu itu mungkin sudah bisa termasuk dalam pengalaman luar biasaku ini. Ku jelaskan beberapa inti masalah dari mading kami ini. Mading ini berupa sebuah box segi enam yang di tengahnya berdiri tegak sebuah pohon. Yang membuat sedikit aneh adalah pohon ini setengah bagian kering dan tidak mempunyai daun sedangkan bagian lainnya layaknya pohon seperti aslinya. Itu di sebabkan bagin box tersebut di bagi menjadi dua. Satu perkotaan dan sisi duanya pedesaan yang kami anggap masih asri sehingga pohon diatasnya masih rindang. Bagian perkotaanya di buat kering karena kami ingin menunjukkan sisi buruk dari kota-kota industri yang banyak pabrik-pabrik. Banyak sekali pencemaran, polusi dan berbagai masalah lingkungan. Itulah pokok permasalahan yang akan kami tunjukkan pada pengunjung nantinya. Pengunjung pun tidak akan diam, menjadi rencana kami akan menyediakan sebuah kertas dan pengunjung akan menuliskan harapannya untuk bumi atau kehidupan nantinya. Dan itu sebuah ide kreatif semua tim DetCon SMAdaBo untuk membuat sebuah mading itu. Sebuah pengorbanan yang besar kita kerahkan membuat mading dan untuk ikut lomba ini. Memang sih, aku tak tahu pasti awalnya bagaimana mulai dari ngamen, jual barang bekas, flashmob, namun yang pasti aku ketahui adalah mengadakan acara fashion show di alun-alun kota untuk menggalang dana. Alasannya kenapa? Karena Kepala Sekolah kita tidak menyetujui kita semua ikut lomba ini. Sebab itulah kita bersusah payah mencari uang hanya untuk ikut lomba yang bergengsi Se-Pulau Jawa ini.
Sejak aku join ke kelompok tim Mading ini, setengah dari mading ini pun belum jadi padahal waktu untuk mengumpulkan di Jawa Pos hanya tinggal 7 hari lagi. Karena itu aku dan kawan-kawan selalu kerja keras sampai nglembur pulang malam. Mulai dari miniatur-miniatur, daun-daun pohon itu mulai terlihat jadinya. Satu minggu berlalu, akhirnya kita sampai pada hari terakhir pembuatan mading ini. Sepertinya mading ini tak sia-sia rasanya, cukup memuaskan bagi kami untuk selalu melihat hasil kerja keras ini. Meski banyak halangan yang selalu menghadang. Tak terasa hari-hari yang melelahkan itu terlewatkan dan semua itu mengajarkan kami semua betapa susahnya berjuangan untuk mendapatkan selembar kertas uang dan bagaimana menghargai waktu. Sekarang waktunya bagi kami semua untuk bersiap untuk besok berangkat ke Surabaya bersama-sama mengantar mading ini ke perlombaan yang aku idam-idamkan satu tahun lalu.
Akhir Dari Bagian 1 . . .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar