Hari ini adalah hari yang sudah ku nanti selama satu
tahun. Pernah ku bayangkan sebenarnya semua ini, tapi anehnya aku tak menyadari
semua ini akan benar terjadi. Ku pikir aku hanya senang bidang ini, keinginan
pun hanya sekedar bukan sebuah cita-cita.
Semua berawal saat aku berangkat sekolah. Saat ku mulai
langkahku menuju kelas tak ada firasat pun yang menunjukkan aku akan mendapat
kejutan. Ku anggap ini seperti hari-hari biasa ku jalani setiap hariku. Namun
salah seorang temanku menunjukkan sebuah brosur yang didalamnya berisi sebuah
pengumuman lomba membuat komik. Memang dalam gambar-gambar menggambar aku cukup
menguasai. Bukan untuk sombong, tapi aneh kan jika seorang juara tiga desain
tekstil tak jago gambar. Memang sih beberapa minggu lalu aku di tunjuk untuk
ikut lomba itu dan berhasil mendapat juara tiga dalam Kabupaten. Sebetulnya
belum seberapa sih, tapi setidaknya menghadiahkan sebuah piala juara tiga
kepada orang tuaku itu yang tidak biasa. Tidak semua anak bisa melakukan itu.
Ya mungkin sedikit ada kebanggaan lain dari diriku.
Mungkin soal lomba komik tadi, aku tak begitu tertarik.
Komik kan tidak sekedar gambar saja. Ada cerita yang mengandungnya. Itulah yang
menjadi masalah aku bukan seorang penulis cerpen. Butuh waktu yang lama untuk mengarang
sebuah cerita yang menarik, tak seperti menggambar hanya butuh inspirasi dan
bagaimana mana cara kamu menuangkan inspirasi itu. Tak butuh waktu lama mencari
inspirasi. Coba saja di tempat yang tenang, pasti banyak inspirasi yang muncul
di fikiranmu. Tempat tenang itu bukan berarti yang sepi.
Sudahlah soal lomba komik lupakan saja. Waktunya jam
pelajaran pertama. Guruku yang satu ini super gokil. Dari namanya saja sudah
tergambarkan. Beliaulah yang mengajarkan kami mata pelajaran Kimia, meski aku tak
begitu handal dalam pelajaran ini. Ya biarlah ku jalani saja, sekolah kan untuk
menuntut berbagai macam ilmu bukan hanya pelajaran Kesenian saja.
Mungkin tak sadar diriku kalau aku di panggil oleh teman
samping kelasku. Pikirku yang bingung tak tahu ada apa. Karang teman sampingku,
mungkin aku di suruh untuk ikut lomba komik tadi. Memang sih, teman-teman
sekelasku mengakui kalau ada panggilan untukku pasti hubungan tentang Seni.
Sehingga mudah saja mereka mengarang cerita untukku.
Tak salah sih sebenarnya, tapi melencengnya jauh.
Kemudian aku pun mengikuti teman yang memanggilku tadi. Langsung saja aku di
suruh duduk di bangku depan kantin yang biasa digunakan anak-anak untuk
makan. Rasanya aku seperti di introgasi.
Pertama aku di tanyai tentang ku yang juara tiga itu. Terus bagaimana koq bisa juara?. Sepertinya
itu pertanyaan yang mudah sedikit konyol sih tapi bingung juga kalau di
pikirkan jawabannya. Apa mungkin aku menjawab “Ya mungkin desainku bagus sehingga juri tertarik menjuarakan aku”.
Konyol bukan dan tak mungkin aku menjawab seperti itu. Aku hanya bisa tersenyum
soal itu. Berlanjut ke bagaimana
desainmu? Terus apa reward-mu dari
sekolah sudah kamu ambil?. Semua pertanyaan-pertanyaan tadi semakin tak
membuat aku paham sebenarnya ada apa ini?.
Mulai to do point-nya saja. Mereka membuat aku tak
sanggup untuk berkata tidak saat mereka atau teman-temanku tadi menawari untuk
aku ikut Lomba Mading Jawa Pos DetCon. Inilah
yang tadi membuat aku tak menyadari kalau aku akan menjalani semua ini.
Dari sinilah ceritaku ini semua berawal...
“Perjalananku
Bersama Boneka
DET”
Seminggu
sebelumnya aku sudah menjalani hari dengan susah payah bersama untuk membuat
sebuah madin tiga dimensi yang indah bertemakan Go Green Requesting yang
nantinya akan memenuhi pagelaran Deteksi Convention Se-Jawa Timur ini. Kuakui
awalnya aku tak begitu paham soal lomba ini. Aku hanya sekedar tahu saja. Dari
teman sekelasku dulu yang memperlihatkanku beberapa foto-foto mading tahun
lalu. Dalam hati ketertarikan bermunculan. Keinginan mengikuti lomba ini yang
ku maksut sepertinya hanya di sekilas di benakku. Dan sekarang benar-benar
terjadi meski belum membuat aku sadar seutuhnya. Satu minggu penuh aku selalu
pulang tengah malam. Mungkin pikir orang tuaku ini lomba lanjutan dari lomab
yang kemarin itu. Dan aku belum menjelaskan sejelasnya.
Satu
minggu itu mungkin sudah bisa termasuk dalam pengalaman luar biasaku ini. Ku
jelaskan beberapa inti masalah dari mading kami ini. Mading ini berupa sebuah
box segi enam yang di tengahnya berdiri tegak sebuah pohon. Yang membuat
sedikit aneh adalah pohon ini setengah bagian kering dan tidak mempunyai daun
sedangkan bagian lainnya layaknya pohon seperti aslinya. Itu di sebabkan bagin
box tersebut di bagi menjadi dua. Satu perkotaan dan sisi duanya pedesaan yang
kami anggap masih asri sehingga pohon diatasnya masih rindang. Bagian
perkotaanya di buat kering karena kami ingin menunjukkan sisi buruk dari
kota-kota industri yang banyak pabrik-pabrik. Banyak sekali pencemaran, polusi
dan berbagai masalah lingkungan. Itulah pokok permasalahan yang akan kami
tunjukkan pada pengunjung nantinya. Pengunjung pun tidak akan diam, menjadi
rencana kami akan menyediakan sebuah kertas dan pengunjung akan menuliskan
harapannya untuk bumi atau kehidupan nantinya. Dan itu sebuah ide kreatif semua
tim DetCon SMAdaBo untuk membuat sebuah mading itu. Sebuah pengorbanan yang
besar kita kerahkan membuat mading dan untuk ikut lomba ini. Memang sih, aku
tak tahu pasti awalnya bagaimana mulai dari ngamen,
jual barang bekas, flashmob, namun yang pasti aku ketahui adalah mengadakan
acara fashion show di alun-alun kota untuk menggalang dana. Alasannya kenapa?
Karena Kepala Sekolah kita tidak menyetujui kita semua ikut lomba ini. Sebab
itulah kita bersusah payah mencari uang hanya untuk ikut lomba yang bergengsi
Se-Pulau Jawa ini.
Sejak
aku join ke kelompok tim Mading ini, setengah dari mading ini pun belum jadi
padahal waktu untuk mengumpulkan di Jawa Pos hanya tinggal 7 hari lagi. Karena
itu aku dan kawan-kawan selalu kerja keras sampai nglembur pulang malam. Mulai dari miniatur-miniatur, daun-daun pohon
itu mulai terlihat jadinya. Satu minggu berlalu, akhirnya kita sampai pada hari
terakhir pembuatan mading ini. Sepertinya mading ini tak sia-sia rasanya, cukup
memuaskan bagi kami untuk selalu melihat hasil kerja keras ini. Meski banyak
halangan yang selalu menghadang. Tak terasa hari-hari yang melelahkan itu
terlewatkan dan semua itu mengajarkan kami semua betapa susahnya berjuangan
untuk mendapatkan selembar kertas uang dan bagaimana menghargai waktu. Sekarang
waktunya bagi kami semua untuk bersiap untuk besok berangkat ke Surabaya
bersama-sama mengantar mading ini ke perlombaan yang aku idam-idamkan satu
tahun lalu.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar