Rabu, 14 November 2012

SUARA PENDERITAAN





Pagi ini hari cerah sedang menyelimuti semua hati orang Jakarta. Meskipun terlihat jalan raya yang dikerumuni ramai orang-orang. Mereka tetap memiliki senyuman berseri untuk menjalani hari. Tak terkecuali pasangan yang baru menikah setahun yang lalu ini. Mereka sedang duduk menikmati segarnya udara pagi di teras lantai atas rumahnya.
Sambil mengelus-elus perut istrinya yang sudah besar dan sedang duduk disampingnya itu, Romi berbicara tentang masa lalunya kepada Adinda. Dan ditengah obrolan mereka tiba-tiba Dinda merasakan sesuatu diperutnya. Dan sepertinya akan melahirkan. Kemudian Romi pun segera menggotongnya ke Rumah Sakit. Dan dibawa Dinda ke ruang bersalin sambil meringik dan menjerit kesakitan.



               “Maaf Pak, Anda tidak boleh masuk.” larang suster pada Romi.
Sambil menunggu di ruang tunggu Romi mondar-mandir sambil berdoa. Dan setelah menunggu beberapa lama dan sambil terus memohon untuk keselamatan istrinya dan kesehatan anaknya. Dengan wajah sedikit pucat dan penasaran, Romi melihat Dokter yang keluar dari ruang tempat dimana istrinya berada.

“Bagaimana Dok? Istri saya baik-baik saja kan...? Bagaimana juga dengan Anak saya Dok?.” tanya Romi dengan penuh harapan.
Dokter itu keluar dengan tak sedikit pun mengeluarkan sepatah katapun dan langsung menuju kamar pasiennya yang lain yang sudah menunggu untuk di tanganinya. Dengan jawaban si Dokter yang tak meyakinkannya, Romi pun berlari menuju kamar. Ia pun bertanya-tanya apa yang sedang terjadi dengan istri dan anaknya itu.
Ketika dia membuka pintu kamar ia pun masih belum bisa menyadari, sekarang dia sedang berdiri di depan istrinya yang sudah terbaring pucat kaku tak berdaya. Tetesan air pun tak sadar keluar dari matanya. Dengan diam membisu, Romi tak bisa menerima jika istri yang baru saja di sentuhnya tadi sudah meninggalkannya untuk selamanya. Ternyata istrinya itu menghembuskan nafas terakhirnya karena ia sudah tak bisa lagi menahan sakitnya hingga Dinda tak sempat melihat bagaimana wajah rupawan buah hatinya dengan Romi.
Dinda sudah kehabisan darah untuk melahirkan bayinya yang ternyata adalah kembar perempuan. Semua itu tak akan terbalaskan jika buah hati yang dilahirkan dari rahim istrinya bukanlah seorang bayi biasa. Yang membuat Romi tak terlihat bahagia lagi karena bayi yang di kandung Adinda 9 bulan itu terlahirkan cacat. Mereka adalah kembar siam pada bagian perut. Dengan masih rasa pilunya ia membawa kedua anaknya itu pulang kerumah.
Keesokan harinya Romi sudah menghadap di depan liang lahat istri yang sangat di cintainya itu.
“Kenapa kamu sebegitu cepatnya meninggalkan aku disini. Kenapa kau tak mau berkata jika kemarin itu adalah hari terakhirmu bersamaku. Aku pasti tak akan menyia-nyiakan harimu itu. Akan ku bahagiakanmu... meski kau akan pergi menigglakan aku seperti ini.” keluh kesah Romi sambil melihat kuburan istrinya itu.
Dan memang sudah kewajiban seorang Ayah membesarkan seorang titipan meskipun hanya seorang diri tanpa didampingi seorang istri.
“Memang tak salah jika kasih ibu itu tak terhingga sepanjang masa, kau berikan seluruh kekuatanmu hingga kau mengorbankan nyawamu sendiri. Aku janji akan merawat anak kita dengan penuh kasih sayang.” janjinya kepada Dinda.
Dia bingung apa yang akan dikatakan kepada anaknya nanti ketika mereka sudah beranjak dewasa. Apakah Romi akan mengatakan yang sejujurnya, jika ibunya telah meninggalkan mereka saat melahirkan mereka. Romi takut jika itu malah akan membuat mereka merasa bersalah. Apalagi menghadapi keadaannya sendiri yang tak normal seperti anak-anak biasa pada umumnya.
Beberapa tahun pun berlalu, anak-anak tadi yang bernama Ime dan Ami itu sudah mulai tumbuh besar. Meskipun mereka hanya memiliki dua tangan yang masing-masing satu tangan kanan dan kiri namun mereka menjalani hari seperti orang-orang biasa. Yang berbeda Ime dan Ami selalu bersama dalam melakukan kegiatan sehari-harinya. Mulai dari makan, tidur, sampai di kamar mandi pun mereka lakukan bersama.
Namun hingga remaja perasaan risih itu mulai muncul. Apalagi ejek-ejekan dari semua teman-temannya. Keduanya seorang anak yang baik dan patuh kepada Ayahnya. Namun yang sedikit berubah adalah Ami. Dia sepertinya iri dengan Ime. Memang Ime itu anak yang cerdas, selalu mendapat juara dalam kelas, dan sepertinya lebih disayang oleh Ayahnya. Apalagi sekarang pada masa pubertasnya, Ime mulai disukai oleh seorang laki-laki sesekolahnya yang semakin membuat Ami dengki hati.
Dion yang diam-diam menyukai Ime. Dia mengenal Ime dari Dimas teman sekelas Ime dan Ami. Sekarang Ami harus menuruti saudaranya itu untuk bertemu dan berbicara dengan Dion. Meskipun sedikit kesal ia duduk disamping Ime sambil mendengarkan apa yang dibicarakan mereka. Ternyata Dion memberi sebuah hadiah kepada Ime. Ketika pulang, Ami yang sudah tak bisa menahan kesalnya merusak hadiah yang diberikan Dion. Dengan sedih hati Ime menerima perlakuan saudaranya itu
Dan sekarang jika Ime mengajak Ami untuk bertemu, atau apa pun yang di inginkan Ime. Ami tidak mengizinkan, dan diam saja dengan wajah cemberut. Saat itu mereka beberapa hari tidak masuk sekolah karena Ime sedang sakit. Dion yang mencari Ime hanya bisa mengirimkan surat dan ternyata diterima Ami yang langsung di sobek-sobeknya sebelum Ime membacanya.
Terakhir kejamnya yang dilakukan Ami kepada saudaranya yaitu membuang obat yang akan di minum Ime. Mungkin sekarang Ime sudah tak sabar menghadapi kelakuan Ami yang kejam. Pada suatu saat Ayahnya datang ke kamar mereka. Saat itu Ami sudah tidur, namun Ime masih ngobrol dengan Ayahnya itu.
Ayah, aku sudah tak kuat lagi. Bagaimana kalau kita di operasi saja...” curhat Ime pada Ayah.
Kamu tenang saja akan Ayah usahakan demi kebahagiaanmu.” Ayah menenangkan Ime.
Dan ternyata Ami terbangun mendengar obrolan Ime dengan Ayah. Saat Ayah sudah keluar dari kamar Ami tanpa sadar mencekik leher Ime, Ami merasa di khianati oleh saudara sendiri. Untungnya Ami masih mempunyai hati dan tidak sampai membuat Ime kehabisan nafas.
Pagi harinya Ayah membawa mereka ke rumah sakit. Dan memeriksa keadaan keduanya.
Mereka tidak akan bisa di operasi karena jika mereka di operasi masing-masing hanya akan memiliki satu paru-paru yang tidak memungkinkan untuk hidup.” pernyataan dari Dokter.
 Dengan sedikit kecewa Ayah berbicara pada Ime dan Ami. Ime merasa sedih karena sedikit merasa tersiksa, sedangkan Ami meringis tersenyum senang.
Namun bukan berarti semua itu menghalangi kegiatan di sekolah mereka. Pada suatu hari, diadakannya rekreasi. Semua siswa di sekolah itu merasa senang sekali, tak terkecuali dengan Ime dan Ami. Memang Ayah mereka sedikit khawatir dengan keadaan mereka, namun jika rekreasi itu bisa membuat mereka bahagia Ayah tetap mengizinkan Ime dan Ami untuk ikut dalam rekreasi itu. Dan momen rekreasi itu di manfaatkan Dion untuk mendekati Ime. Perjalanan rekreasi dari Jakarta ke Pulau Bali itu tetap di nikmati oleh Ime. Perjalanan itu adalah perjalanan yang akan menjadi kenangan untuk seluruh siswa di sekolah itu. Karena nanti mereka akan berpisah dan tak tau kapan lagi bisa berkumpul bahagia seperti sekarang ini. Dalam perjalanan itu siswa-siswa dengan riangnya bernyanyi sambil menghirup udara segar di desa-desa.
Sepertinya Ami masih marah dengan Ime saat meminta mereka untuk di operasi. Ami tidak suka jika Ime mendapatkan segalanya, semua yang di inginkan Ime selalu terwujud. Itulah yang membuat Ami selalu iri pada Ime.
Dan ditengah perjalanan rombongan berhenti dulu di sekitar Yogyakarta. Dan Ami dan Ime pun menyempatkan ke kamar kecil. Ketika mau naik ke bus Ime meminta Ami untuk duduk bersama rombongan bus yang dinaiki Dion, namun kali ini masih saja Ime pun tak mau. Ime pun dengan sabar menerima naik ke bus yang awal tadi di naiki mereka.
Kemudian rombongan rekreasi yang masih jauh itu berlanjut. Sekarang semua terlelap dalam tidur mengumpulkan tenaga, karena besok mereka akan menghabiskan hari yang melelahkan. Tidak lama berjalan tiba-tiba bus yang di naiki Dion berhenti. Di kiranya ban bus itu bocor atau mogok. Dengan santainya Dion pun melanjutkan tidurnya yang belum  puas di nikmatinya.
Namun tiba-tiba dengan spontannya Dion pergi keluar bersama teman-teman yang lainnya dan ada apa di luar sana mengapa banyak orang yang bergerombolan. “Apakah sedang ada unjuk rasa disini...?” Tapi mengapa mereka semua itu terlihat panik. Dan ternyata Dion pun mendapat kabar jika bus yang dinaiki Ime dan Ami masuk ke jurang karena busnya tak bisa terkemudi dengan kendali. Dengan menjerit Dion pergi ke tempat kejadian. Rombongan rekreasi itu tak akan berlanjut.
Beberapa bulan kemudian, seluruh siswa sekolah itu lulus dan ternyata Ami masih selamat dalam kecelakaan itu, namun yang mungkin sedikit membuat Ami senang karena kali ini saudara yang dibencinya itu tak bisa dilihatnya lagi untuk selamanya. Anehnya perjalanan kali ini membuat Ami merasa sangat kehilangan Ime, memang setelah kejadian itu Ami di operasi dan paru-paru yang setengah berada di badan Ime itu sekarang menjadi miliknya seutuhnya.
Beberapa tahun berlalu tanpa Ime, sekarang Ami kuliah di luar negeri. Dia ingin mandiri dan tak mau membuat Ayahnya itu sengsara setelah kehilangan Ime. Tak disangka  Dion juga berada di kampus itu. Ami pun mencoba menghampirinya.
Ime...???” tanya heran Dion pada Ami.
Memang beberapa tahun setelah kecelakaan itu, Dion tidak mengetahui kabar Ime. Dan ini dimanfaatkan Ami untuk mengaku sebagai Ime kepada Dion. Dulu Ami telah menyimpan perasaan pada Dion dan sebab itulah yang membuat Ami selalu cemburu pada Ime jika dimintai dekat dengan Dion. Ami menceritakan semua kejadian itu dan menganggap Ime yang sudah meninggal itu adalah dirinya. Memang wajah Ami tak jauh berbeda meskipun adapun perbedaan yang dimiliki Ami yaitu tanda lahir hitam ditangannya yang tak mungkin membuat Dion langsung curiga.
Beberapa bulan dijalani mereka bersama tanpa Dion merasa aneh dengan keberadaan Ami yang mengaku Ime kepadanya. Pada akhir semester mereka menyempatkan untuk pulang kerumah masing-masing. Ketika sampai di bandara, Ayah Ami sudah menanti kedatangannya.
            Sampai ketemu yaa...”  kata Dion pada Ami.
            Daa...” jawab balik Ami.
            “Ami, ayah sangat merindukanmu...” sapa Ayah pada Ami.
Ami takut jika Dion mendengar perkataan Ayahnya itu. Dan mengetahui sebenarnya.
            Sudah Ayah aku capek. Ayo cepat ke rumah!” bantah Ami yang ketakutan.
                        Ami...?” pikir bingung Dion yang di belakang.
Namun Dion tak menghiraukannya dan langsung pulang ke rumahnya.
            Besoknya Dion mengajak Ami pergi. Tetapi Ami yang saat itu merasa kangen pada saudaranya, mengunjungi kuburan Ime. Dion pun masuk ke rumah Ami langsung bertemu Ayahnya dan menanyakan Ime. Dengan spontan Ayah Ami merasa sedih dan bertanya-tanya kenapa Dion menanyakan Ime. Sedangkan Dion terheran-heran dengan tingkah Ayah Ami. Kemudian Dion yang bingung pulang. Di tengah jalan, Dion melihat Ami yang di anggapnya Ime itu sedang berjalan keluar dari kuburan. Dengan bingung yang bertambah, Dion pun menuju kuburan itu. Dengan kagetnya Dion melihat sebuah nisan yang bernamakan Ime. Sepertinya Dion sudah menemukan dari semua teka-teki tadi. Untuk memastikan dia pun kembali ke rumah Ami dan bertanya kepada Ayah Ami. Sekarang dengan tabahnya Ayah Ami menjelaskan semuanya sehingga membuat Dion langsung bersedih. Ketika Dion mau pulang, Ami pun datang yang lantas ketakutan.
                        Ayah... tadi berkata apa saja pada Dion?” marah Ami.
                        Ayah tidak mengatakan apa-apa” jawab singkat Ayah.
                        Sudahlah Ami aku sudah tau semuanya...” potong Dion dan pergi.
            Dengan emosi yang melunjak Ami pun marah semarah-marahnya hingga ia tak sadar jika dia sudah menusuk Ayahnya dengan pisau yang langsung menewaskan Ayahnya seketika itu juga. Sepertinya semua keinginan Ami tak akan bisa terkabulkan dan akan menjadi khayalannya saja meski apa pun telah dia lakukan jika dia tak merubah sifatnya itu. Sekarang hidupnya akan berantakan karena perasaan bersalahnya pada Ibu, Ayah dan saudaranya.
Tahukah kamu? Jika bus pada kecelakaan yang menewaskan Ime itu. Di biarkan dan menjadi tempat dimana setiap malamnya selalu terdengar suara tangisan yang mencekam. Tangisan siapakah itu sebenarnya . . . ???
 

TAMAT
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar