Pagi ini hari cerah sedang menyelimuti semua hati orang
Jakarta. Meskipun terlihat jalan raya yang dikerumuni ramai orang-orang. Mereka
tetap memiliki senyuman berseri untuk menjalani hari. Tak terkecuali pasangan
yang baru menikah setahun yang lalu ini. Mereka sedang duduk menikmati segarnya
udara pagi di teras lantai atas rumahnya.
Sambil mengelus-elus perut istrinya yang sudah besar dan sedang
duduk disampingnya itu, Romi berbicara tentang masa lalunya kepada Adinda. Dan
ditengah obrolan mereka tiba-tiba Dinda merasakan sesuatu diperutnya. Dan
sepertinya akan melahirkan. Kemudian Romi pun segera menggotongnya ke Rumah
Sakit. Dan dibawa Dinda ke ruang bersalin sambil meringik dan menjerit
kesakitan.
“Maaf Pak, Anda tidak boleh masuk.” larang suster pada Romi.
“Maaf Pak, Anda tidak boleh masuk.” larang suster pada Romi.
Sambil menunggu di ruang tunggu Romi mondar-mandir sambil
berdoa. Dan setelah menunggu beberapa lama dan sambil terus memohon untuk
keselamatan istrinya dan kesehatan anaknya. Dengan wajah sedikit pucat dan
penasaran, Romi melihat Dokter yang keluar dari ruang tempat dimana istrinya
berada.
“Bagaimana Dok? Istri saya baik-baik saja kan...? Bagaimana juga dengan Anak saya Dok?.” tanya Romi dengan penuh harapan.
Dokter itu keluar dengan tak sedikit pun mengeluarkan
sepatah katapun dan langsung menuju kamar pasiennya yang lain yang sudah
menunggu untuk di tanganinya. Dengan jawaban si Dokter yang tak meyakinkannya,
Romi pun berlari menuju kamar. Ia pun bertanya-tanya apa yang sedang terjadi
dengan istri dan anaknya itu.
Ketika dia membuka pintu kamar ia pun masih belum bisa
menyadari, sekarang dia sedang berdiri di depan istrinya yang sudah terbaring
pucat kaku tak berdaya. Tetesan air pun tak sadar keluar dari matanya. Dengan
diam membisu, Romi tak bisa menerima jika istri yang baru saja di sentuhnya
tadi sudah meninggalkannya untuk selamanya. Ternyata istrinya itu menghembuskan
nafas terakhirnya karena ia sudah tak bisa lagi menahan sakitnya hingga Dinda
tak sempat melihat bagaimana wajah rupawan buah hatinya dengan Romi.
Dinda sudah kehabisan darah untuk melahirkan bayinya yang
ternyata adalah kembar perempuan. Semua itu tak akan terbalaskan jika buah hati
yang dilahirkan dari rahim istrinya bukanlah seorang bayi biasa. Yang membuat
Romi tak terlihat bahagia lagi karena bayi yang di kandung Adinda 9 bulan itu
terlahirkan cacat. Mereka adalah kembar siam pada bagian perut. Dengan masih
rasa pilunya ia membawa kedua anaknya itu pulang kerumah.
Keesokan harinya Romi sudah menghadap di depan liang lahat
istri yang sangat di cintainya itu.
“Kenapa
kamu sebegitu cepatnya meninggalkan aku disini. Kenapa kau tak mau berkata jika
kemarin itu adalah hari terakhirmu bersamaku. Aku pasti tak akan menyia-nyiakan
harimu itu. Akan ku bahagiakanmu... meski kau akan pergi menigglakan aku
seperti ini.” keluh kesah Romi sambil
melihat kuburan istrinya itu.
Dan memang
sudah kewajiban seorang Ayah membesarkan seorang titipan meskipun hanya seorang
diri tanpa didampingi seorang istri.
“Memang
tak salah jika kasih ibu itu tak terhingga sepanjang masa, kau berikan seluruh
kekuatanmu hingga kau mengorbankan nyawamu sendiri. Aku janji akan merawat anak
kita dengan penuh kasih sayang.” janjinya
kepada Dinda.
Dia bingung apa yang akan dikatakan kepada anaknya nanti
ketika mereka sudah beranjak dewasa. Apakah Romi akan mengatakan yang
sejujurnya, jika ibunya telah meninggalkan mereka saat melahirkan mereka. Romi
takut jika itu malah akan membuat mereka merasa bersalah. Apalagi menghadapi
keadaannya sendiri yang tak normal seperti anak-anak biasa pada umumnya.
Beberapa tahun pun berlalu, anak-anak tadi yang bernama Ime
dan Ami itu sudah mulai tumbuh besar. Meskipun mereka hanya memiliki dua tangan
yang masing-masing satu tangan kanan dan kiri namun mereka menjalani hari
seperti orang-orang biasa. Yang berbeda Ime dan Ami selalu bersama dalam
melakukan kegiatan sehari-harinya. Mulai dari makan, tidur, sampai di kamar
mandi pun mereka lakukan bersama.
Namun hingga remaja perasaan risih itu mulai muncul. Apalagi
ejek-ejekan dari semua teman-temannya. Keduanya seorang anak yang baik dan
patuh kepada Ayahnya. Namun yang sedikit berubah adalah Ami. Dia sepertinya iri
dengan Ime. Memang Ime itu anak yang cerdas, selalu mendapat juara dalam kelas,
dan sepertinya lebih disayang oleh Ayahnya. Apalagi sekarang pada masa
pubertasnya, Ime mulai disukai oleh seorang laki-laki sesekolahnya yang semakin
membuat Ami dengki hati.
Dion yang diam-diam menyukai Ime. Dia mengenal Ime dari
Dimas teman sekelas Ime dan Ami. Sekarang Ami harus menuruti saudaranya itu
untuk bertemu dan berbicara dengan Dion. Meskipun sedikit kesal ia duduk
disamping Ime sambil mendengarkan apa yang dibicarakan mereka. Ternyata Dion
memberi sebuah hadiah kepada Ime. Ketika pulang, Ami yang sudah tak bisa
menahan kesalnya merusak hadiah yang diberikan Dion. Dengan sedih hati Ime
menerima perlakuan saudaranya itu
Dan sekarang jika Ime mengajak Ami untuk bertemu, atau apa
pun yang di inginkan Ime. Ami tidak mengizinkan, dan diam saja dengan wajah
cemberut. Saat itu mereka beberapa hari tidak masuk sekolah karena Ime sedang
sakit. Dion yang mencari Ime hanya bisa mengirimkan surat dan ternyata diterima
Ami yang langsung di sobek-sobeknya sebelum Ime membacanya.
Terakhir kejamnya yang dilakukan Ami kepada saudaranya yaitu
membuang obat yang akan di minum Ime. Mungkin sekarang Ime sudah tak sabar
menghadapi kelakuan Ami yang kejam. Pada suatu saat Ayahnya datang ke kamar
mereka. Saat itu Ami sudah tidur, namun Ime masih ngobrol dengan Ayahnya itu.
“Ayah, aku sudah tak
kuat lagi. Bagaimana kalau kita di operasi saja...” curhat Ime pada Ayah.
“Kamu tenang saja akan
Ayah usahakan demi kebahagiaanmu.” Ayah menenangkan Ime.
Dan ternyata Ami terbangun mendengar obrolan Ime dengan Ayah.
Saat Ayah sudah keluar dari kamar Ami tanpa sadar mencekik leher Ime, Ami
merasa di khianati oleh saudara sendiri. Untungnya Ami masih mempunyai hati dan
tidak sampai membuat Ime kehabisan nafas.
Pagi harinya Ayah membawa mereka ke rumah sakit. Dan
memeriksa keadaan keduanya.
“Mereka tidak akan
bisa di operasi karena jika mereka di operasi masing-masing hanya akan memiliki
satu paru-paru yang tidak memungkinkan untuk hidup.” pernyataan dari
Dokter.
Dengan sedikit kecewa
Ayah berbicara pada Ime dan Ami. Ime merasa sedih karena sedikit merasa
tersiksa, sedangkan Ami meringis tersenyum senang.
Namun bukan berarti semua itu menghalangi kegiatan di
sekolah mereka. Pada suatu hari, diadakannya rekreasi. Semua siswa di sekolah
itu merasa senang sekali, tak terkecuali dengan Ime dan Ami. Memang Ayah mereka
sedikit khawatir dengan keadaan mereka, namun jika rekreasi itu bisa membuat
mereka bahagia Ayah tetap mengizinkan Ime dan Ami untuk ikut dalam rekreasi
itu. Dan momen rekreasi itu di manfaatkan Dion untuk mendekati Ime. Perjalanan
rekreasi dari Jakarta ke Pulau Bali itu tetap di nikmati oleh Ime. Perjalanan
itu adalah perjalanan yang akan menjadi kenangan untuk seluruh siswa di sekolah
itu. Karena nanti mereka akan berpisah dan tak tau kapan lagi bisa berkumpul
bahagia seperti sekarang ini. Dalam perjalanan itu siswa-siswa dengan riangnya
bernyanyi sambil menghirup udara segar di desa-desa.
Sepertinya Ami masih marah dengan Ime saat meminta mereka
untuk di operasi. Ami tidak suka jika Ime mendapatkan segalanya, semua yang di
inginkan Ime selalu terwujud. Itulah yang membuat Ami selalu iri pada Ime.
Dan ditengah perjalanan rombongan berhenti dulu di sekitar
Yogyakarta. Dan Ami dan Ime pun menyempatkan ke kamar kecil. Ketika mau naik ke
bus Ime meminta Ami untuk duduk bersama rombongan bus yang dinaiki Dion, namun
kali ini masih saja Ime pun tak mau. Ime pun dengan sabar menerima naik ke bus
yang awal tadi di naiki mereka.
Kemudian rombongan rekreasi yang masih jauh itu berlanjut.
Sekarang semua terlelap dalam tidur mengumpulkan tenaga, karena besok mereka
akan menghabiskan hari yang melelahkan. Tidak lama berjalan tiba-tiba bus yang
di naiki Dion berhenti. Di kiranya ban bus itu bocor atau mogok. Dengan
santainya Dion pun melanjutkan tidurnya yang belum puas di nikmatinya.
Namun tiba-tiba dengan spontannya Dion pergi keluar bersama
teman-teman yang lainnya dan ada apa di luar sana mengapa banyak orang yang
bergerombolan. “Apakah sedang ada unjuk
rasa disini...?” Tapi mengapa mereka semua itu terlihat panik. Dan ternyata
Dion pun mendapat kabar jika bus yang dinaiki Ime dan Ami masuk ke jurang
karena busnya tak bisa terkemudi dengan kendali. Dengan menjerit Dion pergi ke
tempat kejadian. Rombongan rekreasi itu tak akan berlanjut.
Beberapa bulan kemudian, seluruh siswa sekolah itu lulus dan
ternyata Ami masih selamat dalam kecelakaan itu, namun yang mungkin sedikit
membuat Ami senang karena kali ini saudara yang dibencinya itu tak bisa dilihatnya
lagi untuk selamanya. Anehnya perjalanan kali ini membuat Ami merasa sangat
kehilangan Ime, memang setelah kejadian itu Ami di operasi dan paru-paru yang
setengah berada di badan Ime itu sekarang menjadi miliknya seutuhnya.
Beberapa tahun berlalu tanpa Ime, sekarang Ami kuliah di
luar negeri. Dia ingin mandiri dan tak mau membuat Ayahnya itu sengsara setelah
kehilangan Ime. Tak disangka Dion juga berada
di kampus itu. Ami pun mencoba menghampirinya.
“Ime...???” tanya
heran Dion pada Ami.
Memang beberapa tahun setelah kecelakaan itu, Dion tidak
mengetahui kabar Ime. Dan ini dimanfaatkan Ami untuk mengaku sebagai Ime kepada
Dion. Dulu Ami telah menyimpan perasaan pada Dion dan sebab itulah yang membuat
Ami selalu cemburu pada Ime jika dimintai dekat dengan Dion. Ami menceritakan
semua kejadian itu dan menganggap Ime yang sudah meninggal itu adalah dirinya. Memang
wajah Ami tak jauh berbeda meskipun adapun perbedaan yang dimiliki Ami yaitu
tanda lahir hitam ditangannya yang tak mungkin membuat Dion langsung curiga.
Beberapa bulan dijalani mereka bersama tanpa Dion merasa
aneh dengan keberadaan Ami yang mengaku Ime kepadanya. Pada akhir semester
mereka menyempatkan untuk pulang kerumah masing-masing. Ketika sampai di
bandara, Ayah Ami sudah menanti kedatangannya.
“Sampai ketemu yaa...” kata Dion pada Ami.
“Daa...” jawab balik Ami.
“Ami, ayah sangat merindukanmu...” sapa
Ayah pada Ami.
Ami takut jika Dion mendengar perkataan Ayahnya itu. Dan
mengetahui sebenarnya.
“Sudah Ayah aku capek. Ayo cepat ke rumah!” bantah
Ami yang ketakutan.
“Ami...?” pikir bingung Dion yang di belakang.
Namun
Dion tak menghiraukannya dan langsung pulang ke rumahnya.
Besoknya Dion mengajak Ami pergi.
Tetapi Ami yang saat itu merasa kangen pada saudaranya, mengunjungi kuburan
Ime. Dion pun masuk ke rumah Ami langsung bertemu Ayahnya dan menanyakan Ime.
Dengan spontan Ayah Ami merasa sedih dan bertanya-tanya kenapa Dion menanyakan
Ime. Sedangkan Dion terheran-heran dengan tingkah Ayah Ami. Kemudian Dion yang
bingung pulang. Di tengah jalan, Dion melihat Ami yang di anggapnya Ime itu sedang
berjalan keluar dari kuburan. Dengan bingung yang bertambah, Dion pun menuju
kuburan itu. Dengan kagetnya Dion melihat sebuah nisan yang bernamakan Ime.
Sepertinya Dion sudah menemukan dari semua teka-teki tadi. Untuk memastikan dia
pun kembali ke rumah Ami dan bertanya kepada Ayah Ami. Sekarang dengan tabahnya
Ayah Ami menjelaskan semuanya sehingga membuat Dion langsung bersedih. Ketika
Dion mau pulang, Ami pun datang yang lantas ketakutan.
“Ayah... tadi berkata apa saja pada Dion?” marah Ami.
“Ayah tidak mengatakan apa-apa” jawab singkat Ayah.
”Sudahlah Ami aku sudah tau semuanya...” potong Dion dan pergi.
Dengan emosi yang melunjak Ami pun
marah semarah-marahnya hingga ia tak sadar jika dia sudah menusuk Ayahnya
dengan pisau yang langsung menewaskan Ayahnya seketika itu juga. Sepertinya
semua keinginan Ami tak akan bisa terkabulkan dan akan menjadi khayalannya saja
meski apa pun telah dia lakukan jika dia tak merubah sifatnya itu. Sekarang
hidupnya akan berantakan karena perasaan bersalahnya pada Ibu, Ayah dan
saudaranya.
Tahukah kamu? Jika bus pada kecelakaan yang menewaskan Ime
itu. Di biarkan dan menjadi tempat dimana setiap malamnya selalu terdengar
suara tangisan yang mencekam. Tangisan siapakah itu sebenarnya . . . ???
TAMAT

Tidak ada komentar:
Posting Komentar